BEHAVIORISME, KOGNITIFISME DAN HUMANISME DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh : Deri Suyatma

 

Aliran behaviorisme ini memandang bahwa manusia dilahirkan bagaikan sebuah kertas putih yang tidak ada tulisan apapun. lingkunganlah yang mengisi bentuk dan corak dari kertas tersebut. Berdasarkan pandangan ini kaum behavioris berpendapat bahwa manusia dalam kehidupannya akan berkembang sesuai dengan stimulus yang diterima dari lingkungannya.

Harus diakui bahwa lingkungan sedikit-banyak dapat mempengaruhi perilaku manusia, hal tersebut sebagaimana sabda Rasulallah saw :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟  (رواه البخاري)

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?”(H.R Bukhari)

Berdasarkan pemahaman hadits tersebut di atas, ada hal yang dinafikan oleh aliran behaviorisme, yakni fitrah (potensi) yang ada pada tiap individu. Kenyataanya, manusia lahir dengan potensi ciri khasnya sendiri yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan inilah yang dilupakan oleh kaum behavioris. Hasan langgulung mengartikan fitrah tersebut sebagai potensi-potensi yang dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut merupakan suatu keterpaduan yang tersimpul dalam Asma’ul Husna. Batasan tersebut memberikn arti, misalnya sifat Allah Al-Ilmu “maha mengetahui” maka manusia pun memiliki potensi untuk bersifat mengetahui dan begitu juga semuanya. Akan tetapi kemampuan manusia tentu saja berbeda dengan Allah. Hal ini disebabkan karena berbeda hakikat diantara keduanya. Allah memilki sifat kemaha sempurnaan sedangkan manusia memiliki sifat keterbatasan. Keterbatasan itulah yang menyebabkan manusia membutuhkan pertolongan dan bantuan untuk memenuhi segala kebutuhan. Keadaan ini menyadarkan manusia tentang ke-Esaan Allah, sehingga inilah letak fitrah beragama manusia sebagai manifestasi memenuhi kebutuhan rohaniahnya.

Kritik lain yang dapat disampaikan adalah adanya kecenderungannya untuk mereduksi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini terlihat dari cara kaum behavioris memperlakukan seorang anak. Mereka beranggapan bahwa seorang anak akan berperilaku(memberikan respon) sesuai dengan stimulus yang diberikan. Ini berarti manusia dianggap sebagai sebuah mesin sehingga teorinya bersifat mekanistis.

 

Sementara Istilah kognitif adalah merujuk kepada suatu proses kemampuan berfikir manusia untuk mengenali dan menenmukan informasi sama ada yang bersumber dari dalam manusia maupun yang bersumber dari luar manusia atau faktor lingkungan.

Kemampuan berfikir merupakan salah satu potensi yang ada pada diri manusia. Menurut Ibn Taimiyah sebagaimana disitir Juhaja S. Praja pada diri manusia juga memiliki setidaknya tiga potensi fitrah yaitu:

  1. Daya intelektual (quwwat al-al-‘aql) yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
  2. Daya ofensif (quwwat al-syahwat) yaitu potensi yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi objek-objek yang menyenangkan dan bermamfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah secara serasi dan seimbang.
  3. Daya defensif (quwwat al-ghaddab) yaitu potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari perbuatan yang dapat membahayakan dirinya.

Ada juga pendapat Ibn Taimiyah yang dikutip Nurchalis Majdid yang membagi fitrah manusia kepada dua bentuk yaitu:

  1. Fitrat al-gharizat merupakan potensi dalam diri manusia yang dibawanya semenjak ia lahir. Potensi tersebut antara lain nafsu, akal, hati nurani yang dapat dikembangkan melalui jalur pendididkan.
  2. Fitrat al-munaazalat merupakan potensi luar manusia. Adapun wujud dari fitrah ini yaitu wahyu Allah yang diturunkan untuk membimbing dan mengarahkan fitrat al-gharizat berkembang sesuai dengan fitrahnya yang hanif.

Semakin tinggi tingkat interaksi antara keduanya maka akan semakin tinggi kualitas manusia (insan kamil). Akan tetapi sebaiknya, semakin rendah tidak mengalami keserasian, bahkan berebenturan antara satu dengan yang lainnya maka manusia akan semakin tergelincir dari fitrahnya yang hanif.

Dari uraian di atas bahwa kemampuan berfikir (kognitif) bukanlah satu-satunya yang dapat mempengaruhi tingkah-laku manusia. Tetapi potenti-potensi tersebut satu sama lain saling berhubungan dalam membentuk kepribadian manusia.

Aliran humanistik yang muncul sebagai reaksi terhadap kedua aliran di atas(Behavioristik dan Konitifistik), memandang manusia sebagai makhluk yang bebas dalam menentukan perkembangan dirinya menjadi manusia yang sehat mental dan berperilaku optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Manusia dianggap sebagai makhluk bermartabat dan bertanggung jawab, yang memiliki beberapa potensi yang perlu diusahakan pengaktualisasinya.

Humanistik mencoba untuk memanusiakan manusia. Namun, pemanusiaan itu telah melewati fitrah kemanusiaan karena manusia dipandang sebagai penentu tunggal yang mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri, padahal manusia mempunyai kekurangan dan kelemahan serta keterbatasan sehingga dia tidak bisa lepas dari kekuatan dan kekuasaan yang besar yaitu Tuhan Yang Maha Berkuasa. Dengan orientasi seperti ini manusia ditempatkan pada posisi yang teramat sempurna. Ia adalah pusat dari segala pengalaman dan relasi-relasi dengan dunianya serta penentu utama nasibnya sendiri dan nasib orang lain seperti yang diyakini oleh psikolog humanistik.

Manusia yang dimaksud dalam kajian psikologi humanistik hanya dipandang dari sisi materi yang bisa diamati dan diteliti. Kajian ini belum memberikan definisi baru akan manusia itu sendiri. Kajian ini pun tidak menawarkan solusi atau perubahan yang cukup berarti dalam menjawab problematika yang dialami oleh dunia Barat, yakni dalam memahami asal usul manusia, tujuan dan tempat kembalinya. Sedangkan citra baik manusia dalam psikologi humanistik masih mengacu kepada definisi Barat dalam memahami nilai kebaikan yang relatif kebenarannya. Islam memandang manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Yang Maha Esa yang bertujuan untuk beribadah kepada Allah untuk tujuan kehidupan akhirat sebagai aktualisasi dirinya yang tertinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: